Follow Us @soratemplates

Jumat, 10 Maret 2017

PSIKOTERAPI

19.24 0 Comments



 ilustrasi terapi

 
A.    DEFINISI PSIKOTERAPI
Psikoterapi secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang di artikan sebagai jiwa dan “theraphy” dari bahasa yunani yang berarti merawat atau mengasuh. Psikoterapi di definisikan sebagai perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologi terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian (Syarifah Fadlina, 2007).
Psikoterapi (dalam Sylvia) adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, di lakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerja sama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidak serasian atau gangguan mental.
Ada beberapa pendapat yang di kemukakan para ahli. Di antaranya (library walisongo, 2005):
a.       Corsini
Psikoterapi adalah proses moral dari interaksi dari dua pihak. Setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang. Tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan untuk keadaan yang tidak menyenangkan pada salah satu bidang.

b.      Lewis R. Worberg M.D.
Dalam bukunya yang berjudul The Technique Psychotherapy, mengatakan psikoterapi adalah perasaan dengan menggunakan alat-alat psikologi terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan profesional dengan pasien yang bertujuan; menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada. Memperantarai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak. Meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif.

c.       P. Chaplin
Dalam bukunya yang di terjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono mengatakan bahwa psikoterapi adalah penyembuhan lewat keyakinan agama dan diskusi personal dengan para guru ataupun teman.

B.     PERBEDAAN ANTARA KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Sedangkan psikoterapi menurut Wolberg (dalam Phares dan Trull, 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non-verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepatdan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang di yakininya.
Sedangkan psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya, emosional dan juga lebih dapat di andalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian kearah yang positif.
Perbedaan konseling dan psikoterapi di definisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang di kutipoleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:
KONSELING
PSIKOTERAPI
Klien
Pasien
Gangguan yang kurang serius
Gangguan yang serius
Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
Berhubungan dengan pencegahan
Berhubungan dengan penyembuhan
Lingkungan pendidikan dan non medis
Lingkungan medis
Berhubungan dengan kesadaran
Berhubungan dengan ketidak sadaran
Metode pendidikan
Metode penyembuhan

C.    METODE-METODE PSIKOTERAPI
       Dalam ilmu psikologi, ada banyak sekali metode yang bisa digunakan untuk terapi. Semua metode itu merupakan hasil pemikiran dan penelitian para pakar psikologi dari berbagai penjuru dunia. Dari sekian banyak metode psikoterapi yang ada, bisa dikategorikan dalam lima pendekatan, yaitu:
1.      Psychoanalysis & Psychodynamic
         Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria. Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
         Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
         Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah: Ego State Therapy, Part Therapy, Trance Psychotherapy, Free Association, Dream Analysis, Automatic Writing, Ventilation, Catharsis dan lain sebagainya.

2.      Behavior Therapy
         Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative learning”.
         Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
         Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep Operant Conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
         Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Response Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.

3.      Cognitive Therapy
         Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam Cognitive Therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck.
         Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan Cognitive adalah Collaborative Empiricism, Guided Discovery, Socratic Questioning, Neurolinguistic Programming, Rational Emotive Therapy (RET), Cognitive Shifting. Cognitive Analytic Therapy (CAT)  dan sebagainya.

4.      Humanistic Therapy
         Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
         Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah Gestalt Therapy, Client Cantered Psychotherapy, Depth Therapy, Sensitivity Training, Family Therapies, Transpersonal Psychotherapy dan Existential Psychotherapy.

5.      Integrative / Holistic Therapy
         Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.

Sumber :
http://www.psikoterapis.com/?en_metode-psikoterapi-yang-dipakai,16


Jumat, 18 November 2016

Komunikasi Antara Pemilik Rumah Rajut Dengan Para Pekerja

23.06 0 Comments
Hari, tanggal   : Sabtu, 12 November 2016
Lokasi              : Bandung

1.      Dimensi isi
Dimensi isi adalah bagaimana pesan baik secara verbal ataupun non-verbal di sampaikan. Menurut saya, pesan yang disampaikan antara pemilik Rumah Rajut dengan para pekerjanya sangat baik. Sehinga meminimalisir miss komunikasi antara pemilik dengan para pekerjanya. Pesan yang disampaikan oleh pemilik dapat diterima secara utuh oleh para pekerjanya. Secara non-verbal pun, pemilik menggunakan komunikasi non-verbal ketika ada kesalahan dari para pekerjanya. Namun itu tidak berlangsung lama.

2.      Dimensi Kebisingan
Dimensi kebisingan yang terjadi di lingkungan Rumah Rajut sendiri tidak begitu berpengaruh kepada proses penyampaian pesan. Di dalam rumah produksi Rumah Rajut pun, hanya ditemukan kebisingan di level Study state – narrow band noise di tempat pekerja bekerja. Hal itu di hasilkan oleh benda-benda seperti kipas angin, dan suara mesin rajut yang sedang mengrajut sweater yang masih dalam tahap produksi.

3.      Dimensi Jaringan
Pemilik dari Rumah Rajut sendiri tidak hanya berbicara mengenai hal-hal tentang pekerjaan saja. Tetapi, apabila pekerjanya ada masalah yang di tampilkan oleh bahasa tubuh atau non-verbal, pemilik pun mengambil tindakan dengan cara mendengarkan apa masalahnya. Pemilik beranggapan, apabila pekerjanya ada masalah yang dia simpan sendiri, itu akan mempengaruhi proses produksi, dan akan berdampak kepada keseluruhannya. Maka dari itu, pemilik siap mendengarkan keluh kesah dari para pekerjanya yang mayoritas berasal dari kalangan wanita.

4.      Dimensi Arah
Menurut saya, proses komunikasi yang berjalan di Rumah Rajut ini bersifat dua arah. Dikarenakan pemilik tak sugnkan-sungkan menerima masukan dari para pekerjanya sepanjang itu membantu kinerja dari Rumah Rajut itu sendiri. Pemilik beranggapan bahwa, semakin banyak masukkan akan semakin baik untuk Rumah Rajut di kemudian hari. Sehingga, masukkan dari para pekerjanya dia tampung untuk menjadikan Rumah Rajut menjadi lebih baik. Lebih baik dari segi kualitas produk, maupun dari segi kualitas pelayanannya.








Selasa, 08 November 2016

ANALYSIS SWOT PT UNILEVER

15.47 2 Comments
Unilever Indonesia di dirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever. Pada 22 Juli 1980, nama perusahaan di ubah menjadi PT Lever Brothers Indonesia dan pada 30 Juni 1997 nama perusahaan di ubah menjadi PT Unilever IndonesiaTbk. Unilever Indonesia mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1981 dan mempunyai lebih dari 1000 supplier.

Analisis SWOT

Ø  Strengths (Kekuatan):
  1.        Strategi promosi produk PT Unilever yang efektif dengan menampilkan model-model yang tipikal muda, berkulit putih, berambut panjang, sehingga memacu konsumen (lebih spesifik perempuan) untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami sendiri hasil yang diterima si model dalam iklan tersebut.
  2.       PT Unilever gencar di misi sosial, sehingga kedekatan dengan konsumen dapat terus terjaga. Hal ini terlihat dari pembelanjaan iklan dan promosi yang telah mendorong pertumbuhan penjualan di tengah pasar yang kompetitif. PT Unilever Indonesia sebagai salah satu perusahaan dengan belanja iklan terbesar menurut majalah marketing (top Brand Survey, edisi khusus 2007).
  3.      PT Unilever sudah memiliki jaringan distribusi sendiri sehingga distribusi produknya hingga ke daerah-daerah dapat terlayani.
  4.    PT unilever mempunyai moto “operational excellent with no compromise on quality”. Unilever dalam menjalankan operasinya dijalankan dengan baik tanpa mengabaikan kualitas produk.
  5.      Perencanaan baik dan kerja sama erat dengan para pemasok, konsumen dan distributor untuk menghantar produk-produk dari pabrik ke tempat-rempat penjualan.

Ø  Weaknesses (Kelemahan)
  1.     PT Unilever memiliki struktur matriks, yang terdapat beberapa tantangan yang mesti di hadapi perusahaan yaitu pertama, sulitnya koordinasi kegiatan antar departemen yang mempunyai agenda dan jadwal sendiri-sendiri. Kedua, komunikasi pada karyawan yang bisa menerima pesan yang berbeda-beda. Dan ketiga, resolusi konflik antara inisiatif dari dukungan departemen (SDM, keuangan, dan lain-lain) dengan departemen lini produk yang biasanya sangat berorientasi komersial.
  2.       Rendahnya respon pasar terhadap produk-produk tertentu.
  3.       Jumlah karyawan yang tambun.
  4.       Ketidakjelasan sertifikat halal untuk produk tertentu.
  5.       Mayoritas produk Unilever memiliki entry barrier rendah.

Ø  Opportunities (Kesempatan)
  1.    Stabilitas ekonomi yang relatif baik dengan pertumbuhan yang menggembirakan bagi ekonomi Indonesia sebesar 6.3%.
  2.     Pertumbuhan ekonomi yang kuat di wilayah pulau-pulau seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
  3.       Tingginya kepuasan konsumen terlihat dari predikat prima indeks kepuasan konsumen.
  4.       Banyaknya pemain pasar nasional yang belum memiliki cara produksi kosmetik yang baik.
  5.       Tingginya tingkat ketergantungan masyarakat akan jenis produk consumer goods.

Ø  Threats (Ancaman)
  1.      Adanya kenaikan biaya bahan baku dan bahan kemasan seperti minyak kelapa sawit, gula kelapa, dan bahan berbahan dasar petroleum yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak, bahan kimia dan komoditas lainnya.
  2.       Tidak stabilnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
  3.       Melemahnya daya beli konsumen.
  4.       Maraknya pemalsuan dan penyelundupan produk dari cina.
  5.     Rendahnya infrastruktur yang memadai berupa jalan yang menyebabkan tingginya biaya pemasaran produk.

Senin, 09 Mei 2016

SELF-DIRECTED CHANGES

20.54 0 Comments
A.    Konsep dan Penerapan Self Directed Changes
            Self Directed Changes adalah langkah-langkah dalam elemen dasar untuk meningkatkan kompetensi orang dewasa. Artinya teori ini menjelaskan bagaimana seseorang mengubah dirinya kearah yang lebih baik. Dalam teori ini, seseorang akan mendapat dorongan untuk berubah ketika ia berada dalam kodisi seperti ini:
ü  Individu merasa tidak puas terhadap kondisi aktual dirinya saat ini (actual)
ü  Tetapi individu memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin dicapai (ideal)
ü  Individu mempunyai gambaran jelas tentang apa yang harus dilakukan agar dapat mencapai kondisi ideal yang berawal dari kondisi actual (action step)
            Artinya individu harus merasa tidak puas terhadap kondisinya dan mempunyai keinginan untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi hal yang paling penting adalah individu harus tahu langkah-langkah yang harus individu jalani agar dapat mencapai kondisi yang ingin dia capai. Artinya individu harus dapat mengenal dirinya dengan baik, juga mengerti seluk beluk tujuan yang ingin digapainya. Self Directed Change mempunyai tahapan terapan sebagai berikut:
1.      Meningkatkan Kontrol Diri
    Definisi kontrol diri atau self control adalah kemampuan individu untuk mengarahkan tingkah lakunya sendiri dan kemampuan untuk menekan atau menghambat dorongan yang ada. Goldfried dan Merbaum, mendefinisikan kontrol diri sebagai suatu kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku yang dapat membawa individu kearah konsekuensi positif. Artinya individu harus dapat bisa meningkatkan kontrol diri agar dapat menuju konsenkuensi positif yang didalam ini adalah kondisi actual step.

2.      Menetapkan Tujuan
         Tujuan sangat penting untuk menambah motivasi untuk berubah, dengan adanya tujuan kita dapat mengetahui langkah-langkah yang harus disusun untuk menuju tujuan tersebut, tapi yang terpenting kita harus mempunyai tujuan terlebih dahulu. Tujuan terbersar bisa didukung juga dengan target-target kecil yang sebenarnya mendukung untuk menuju tujuan terbesar.

3.      Pencatatan Perilaku
         Begitu tujuan sudah ditetapkan hal berikutnya adalah menyusun langkahnya. Langkah awal adalah pencatatan perilaku. Di sini perilaku yang baik dan buruk perlu dicatatat. Perilaku buruk yang dicatatat adalah perilaku yang perlu dirubah untuk mencapai kondisi ideal. Sedangkan perilaku yang baik juga perlu dicatatat agar dapat mengetahui apakah dalam diri individu terdapat perilaku yang mendukung untuk menuju kondisi ideal, bila ada perilaku itu perlu dipertahankan.

4.      Menyaring Anteseden Perilaku
            Individu harus menuliskan perilaku yang ingin dirubah, dari sana individu akan dapat melihat konsenkuensi dan kerugian yang ada. Dari sini dapat menuju tahap berikutnya

5.      Menyusun Konsenkuensi yang Efektif
          Setelah kita sudah memulai mengontrol beberapa kondisi yang memicu perilaku atau kebiasaan kita. Meningkatkan pengendalian diri, maka terdiri dari mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain menerima perilaku yang kita yang sudah berubah. Perlu diingat juga saat kita merubah perilaku banyak konsekuensi yang harus dipikirkan, konsenkuensi terhadap diri sendiri maupun orang lain.

6.      Menerapkan Rencana Intervensi
         Ketika kita sudah menyusun hal-hal diatas, artinya selanjutnya adalah merancang tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan. Apa saja yang harus dibuat, dan kondisi apa saja yang harus dibuat untuk melakukan tahapan-tahapan perubahan perilaku. Kemudian jalankan semuanya.

7.      Evaluasi
      Selanjutnya individu harus sering melihat dirinya, maksudnya mengevaluasi apakah sudah terjadi perubahan, atau individu tetap sesuai di rencana yang ia susun, apakah target-target yang disususun sudah mulai tercapai samapai ke tujuan terbesarnya.

Sumber:
Spencer,M.Lyle and Spencer,M.Signe, 1993, Competence at Work:Models for Superrior Performance, John Wily & Son,Inc,New York,USA

Dayakisni, Tri & Hudaniah (2003). Psikologi Sosial. UMM Press. Malang

Gibbons, Maurice. (2002). The Self Directed Learning Handbook Challenging Adolescent Student to Exel. San Fransisco: Jhon Wiley & Sons, Inc.


PEKERJAAN DAN WAKTU LUANG 2

20.50 0 Comments
A.    Penyesuaian Diri Dalam Pekerjaan
            Ketika nilai-nilai dan kemampuan yang cocok dengan Pola Kemampuan Kerja dan Pola penguat Kerja, konselor memiliki tiga alat yang tersedia: Pentingnya Minnesota Kuesioner bentuk laporan, manual GATB (Departemen Tenaga Kerja Amerika, 1979), dan Minnesota Occupational Reinforcer Patterns (MOSC). Semua dapat membantu dalam mengidentifikasi pekerjaan. Yang berguna bagi klien untuk mengeksplorasi lebih lanjut. Selain itu, konsep yang relatif baru namun bermanfaat adalah bahwa gaya penyesuaian. Konsep ini menyangkut tingkat kesesuaian antara orang dan lingkungan. Empat kualitas ini cocok menggambarkan: fleksibilitas, keaktifan, reactiveness, dan ketekunan. Semua alat ini dapat membantu klien dan konselor menggunakan kekayaan informasi dan mempersempit jumlah alternatif kerja sehingga klien dapat memiliki sejumlah pilihan. Ketika klien mengambil Minnesota Importance Questionnaire, mereka menerima nilai pada enam nilai-nilai dan kebutuhan dijelaskan sebelumnya 20 pada 90 sebuah pekerjaan.
            Dalam hal dunia kerja pentingnya diri sendiri untuk menyesuaikan dengan pekerjaan tersebut, penyesuain diri pekerjaan ini sangat penting untuk memahami kepuasan kerja, penyesuain dalam persediaan dan permintaan dan pergantian pekerjaan. Hal ini sangat wajar dalam di dunia pekerjaan.
            Pengertian Kepuasaan Kerja menurut Wexley dan Yukl : mengartikan kepuasan kerja sebagai “the way an employee feels about his or her job”. Artinya bahwa kepuasan kerja adalah cara pegawai merasakan dirinya atau pekerjaannya. dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan yang menyokong atau tidak menyokong dalam diri pegawai yang berhubungan dengan pekerjaan maupun kondisi dirinya. Perasaan yang berhubungan dengan pekerjaan melibatkan aspek-aspek seperti upaya, kesempatan pengembangan karier, hubungan dengan pegawai lain, penempatan kerja, dan struktur organisasi. Sementara itu, perasaan yang berhubungan dengan dirinya antara lain berupa umur, kondisi kesehatan, kemampuan dan pendidikan.



B.     Waktu Luang
            Memanfaatkan waktu luang dengan positif bias saja dengan berolahraga, membaca buku, menghabiskan waktu bersama dengan keluarga atau orang yang terkasih. Memanfaatkan waktu luang yang bermanfaat dan berguna.

Sumber:
Atwater, E., 1983, Psychology of Adjustment, Personal Growth in a Changing Worls, 2nd Ed., Prentice Hall, New Jersey


Schultz, D., 1983, Psikologi Pertumbuhan, Model-Model kepribadian yang Sehat, Kanisius, Yogyakarta