Follow Us @soratemplates

Rabu, 26 April 2017

TERAPI PSIKOANALISIS DAN TERAPI RET

11.14 0 Comments
Ilustrasi kepribadian
© Zurijeta /shutterstock


A.    Definisi Psikoanalisis
      Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi. Psikoanalisis berasal dari uraian tokoh psikoanalisa yaitu Sigmund Freud yang mengatakan bahwa gejala neurotic pada seseorang timbul karena tertahannya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitannya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatic dari pengalaman seksual pada masa kecil. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan irasional yang tidak disadari dari dorongan biologis dan dorongan naluri psikoseksual tertentu pada masa lima tahun pertama dalam kehidupannya.

B.     Konsep Utama Terapi Psikoanalisis
1.      Struktur kepribadian
Ø  Id : Tidak memiliki kontak yang nyata dengan dunia nyata, id berfungsi untuk memperoleh kepuasan sehingga disebut sebagai prinsip kesenangan
Ø  Ego : Disebut juga sebagai prinsip kenyataan. Ego berhubungan langsung dengan duni nyata, ego juga memiliki peran untuk mengambil keputusan dalam kepribadian. Ego menjadi penengah/penyeimbang antara id dan superego
Ø  Super Ego : Disebut sebagai prinsip ideal. Kepribadian yang terlalu didominasi oleh super ego akan merasa selalu bersalah, rasa inferiornya yang besar.

2.      Kesadaran & Ketidaksadaran
Ø  Konsep ketidaksadaran:
ü  Mimpi yang merupakan pantulan dari kebutuhan, kenginan dan konflik yang terjadi dalam diri
ü  Salah ucap / lupa
ü  Sugesti pasca hipnotik
ü  Materi yang berasal dari teknik asosiasi bebas
ü  Materi yang berasal dari teknik proyektif

3.      Kecemasan
            Adalah suatu keadaan tegang atau takut yang mendalam akan peristiwa yang akan terjadi/belum terjadi. Kecemasan juga timbul akibat konflik dari id, ego, dan superego. Kecemasan terdiri dari 3 jenis yaitu kecemasan neurosis yaitu cemas akibat bahaya yang belum diketahui, kecemasan moral yaitu cemas akibat konflik antara kebutuhan nyata/realistis dan perintah superego, dan yang ketiga adalah kecemasan realistis yaitu kecemasan yang terkait dengan rasa takut misalnya kecemasan akan bahaya.

C.    Tujuan Terapi :
1.      Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
2.      Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan hal yang selama ini tidak disadarinya.
3.      Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.

D.    Peran Terapis :
1.      Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
2.      Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
3.      Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
4.      Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien

E.     Teknik Terapi Psikoanalisa:
1.      Asosiasi bebas :
            Terapi asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu & pelepasan emosi-emosi yg berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu. Pasien secara bebas mengungkapkan segala hal yang ingin dikemukakan, termasuk apa yang selama ini ditekan di alam bawah sadar. Pasien mengungkapkan tanpa dihambat atau dikritik. Namun, ada hal yang menjadi salah satu hambatannya yaitu pasien melakukan mekanisme pertahanan diri saat mengungkapkan hal, sehingga tidak semua hal bisa terungkap. Maka, pasien diminta untuk berbaring di dipan khusus dan psikoanalisnya duduk di belakang. Pasien dan psikoanalis tidak berhadapan langsung, sehingga diharapkan pasien dapat mengungkapkan pikirannya tanpa merasa terganggu, tertahan, atau terhambat oleh terapis.

2.      Penafsiran
            Adalah suatu prosedur dalam menganalisa asosiasi bebas, mimpi, resistensi dan transferensi. Dengan kata lain teknik ini digunakan untuk menganalisis teknik-teknik yang lainnya. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.

3.      Analisis Mimpi
            Adalah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan-bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada pasien atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud menganggap bahwa mimpi merupakan jalan keluar menuju kesadaran karena pada saat tidur, semua pemikiran yang ditekan di alam bawah sadar bisa muncul ke permukaan. Pada teknik ini difokuskan untuk mimpi-mimpi yang berulang-ulang, menakutkan, dan sudah pada taraf mengganggu.

4.      Analisis Resistensi
            Adalah dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan. Terapis harus bisa menerobos kecemasan yang ada pada pasien sehingga pasien bisa menyadari alasan timbulnya resitensi tersebut. Setelah klien bisa menyadarinya, pasien bisa menanganinya dan bisa mengubah tingkah lakunya.

5.      Analisis Transferensi/Pengalihan
            Adalah teknik utama dalam terapi psikoanalis karena dalam teknik ini, masa lalu dihidupkan kembali. Pada teknik ini diharapkan pasien dapat memperoleh pemahaman atas sifatnya sekarang yang merupakan pengaruh dari masa lalunya.


RATIONAL EMOTIVE THERAPY (RET)


A.    Definisi RET
      Teori ini mulai dikembangkan oleh Albert Ellis (lahir tahun 1913) di Amerika Serikat. Ellis berpendapat bahwa teori rasional emotif yang dikembangkan awal tahun 1960-an adalah merupakan gelombang baru yang ketiga dalam dunia treatment psikologis, setelah munculnya gelombang pemikiran psikoanalitik dari Sigmund Freud di Eropa dan gelombang pemikiran Rogerian di Amerika sekitar tahun 1950-an.

B.     Konsep Dasar
Konsep dasar RET adalah sebagai berikut:
1.      Manusia dilahirkan dengan berbagai kekuatan dan potensi untuk kehidupan. Salah satu kekuatan yang unik pada manusia adalah potensi berpikir rasional. Di samping itu ada pula potensi lainnya, yakni berpikir irasional.
2.      Pikiran dan emosi adalah dua potensi yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Emosi selalu menyertai proses berpikir.
3.      Berpikir irasional adalah merupakan kenyataan hidup manusia yang terbentuk melalui pengalaman-pengalaman serta proses belajar yang tidak logis, yang diperoleh dari orang tua, keluarga, masyarakat dan kebudayaan.
4.      Emosi dan pemikiran-pemikiran negatif yang bersifat merusak diri harus ditangani melalui pemikiran yang rasional, sehingga pemikiran yang irasional dapat diubah ke arah pemikiran yang rasional.
5.      Perasaan dan pikiran sangat erat hubungannya. Namun, kedua potensi ini mempunyai sifat dan fungsi saling komplementer.

C.    Tujuan Konseling
1.      Tujuan umum:
a.       Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berpikir, keyakinan serta pandangan-pandangan klien yang irasional dan ilogis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan diri, meningkatkan self actualization-nya seoptimal mungkin melalui perilaku kognitif dan efektif yang positif.
b.      Menghilangkan gangguan-gangguan emosional yang merusak diri sendiri, seperti: rasa benci, rasa takut, rasa bersalah, rasa berdosa, rasa cemas, rasa was-was, rasa marah. Sebagai konsekuensi dari cara berpikir dan sistem keyakinan yang keliru dengan jalan melatih dan hidup secara rasional dan membangkitkan kepercayaan, nilai-nilai dan kemampuan diri sendiri.

2.      Tujuan khusus:
a.       Self Interest : menciptakan kesehatan mental termasuk keseimbangan emosional pada seseorang terletak pada diri sendiri, bukan dari orang lain. Maka konseling harus berfokus pada kesadaran diri klien itu sendiri.
b.      Self Direction : individu yang memiliki kesehatan mental yang baik akan selalu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
c.       Tolerance : mendorong dan membangkitkan rasa toleransi klien terhadap orang lain meskipun ia bersalah.
d.      Acceptance of Uncertain : individu yang matang emosinya bersedia menerima kenyataan bahwa di dunia ini segala sesuatu mungkin terjadi.
e.       Fleksibel : mendorong klien agar luwes dalam bertindak secara intelektual, terbuka terhadap suatu masalah sehingga diperoleh cara-cara pemecahannya yang dapat mendatangkan kepuasan kepada diri klien sendiri.
f.       Commitment : individu yang sehat perlu dapat mengembangkan sikap dan perasaan komitmen dengan lingkungannya.
g.      Scientific Thinking : berpikir irasional secara objektif adalah tujuan dari konseling rasional emotif. Berpikir rasional bukan hanya terhadap orang lain tetapi terhadap diri sendiri.
h.      Risk Taking : mendorong dan membangkitkan sikap keberanian dalam diri klien untuk mengubah nasibnya melalui kehidupan nyata, meskipun belum tentu berhasil.
i.        Self Acceptance : penerimaan terhadap diri sendiri, terhadap kemampuan dan kenyataan diri sendiri dengan rasa gembira dan senang.

D.    Hubungan Pertolongan (Helping Relationship)
RET mempunyai karakteristik dalam Helping Relationship sebagai berikut:
1.      Aktif Direktif : artinya dalam hubungan konseling atau terapeutik di sini terapis atau konselor lebih aktif dalam membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2.      Kognitif Rasional : artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3.      Emotif Eksperensial : bahwa hubungan yang dibentuk juga harus melihat aspek emotif klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional sekaligus membongkar akar-akar keyakinannya yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
4.      Behavioristik : artinya bahwa hubungan yang dibentuk harus menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan behavioral (tingkah laku) dalam diri klien.
5.      Kondisional : artinya bahwa hubungan dalam RET dilakukan dengan membuat kondisi-kondisi tertentu terhadap klien sebagai teknik kondisioning untuk mencapai tujuan konseling.

E.     Fungsi dan Peranan Konselor dalam RET
1.      Konselor bertugas mendorong dan meyakinkan kepada klien bahwa klien harus memisahkan keyakinannya yang rasional dari keyakinannya yang irasional.
2.      Konselor menunjukkan kepada klien bahwa berpikir yang ilogis sebenarnya adalah sumber dari gangguan terhadap kepribadiannya.
3.      Konselor mencoba mengarahkan klien untuk berpikir dan membebaskan ide-ide yang tidak rasional.
4.      Mengajar klien bagaimana mengaplikasikan pendekatan ilmiah, objektif dan logis dalam berpikir dan selanjutnya melatih diri untuk menghayati sendiri bahwa ide-ide irasional hanya akan mengembangkan perilaku dan perasaan-perasaan yang dapat menghancurkan atau merusak diri sendiri.

F.     Teknik-Teknik RET
1.      Teknik Assertive Training, yaitu teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien untuk secara terus menerus menyesuaikan dirinya dengan pola perilaku tertentu yang diinginkan.
2.      Teknik Sosiodrama, yaitu teknik yang digunakan untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan klien, melalui suatu suasana yang didramasasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan maupun melalui gerakan-gerakan dramatis. Teknik dilakukan untuk melatih perilaku verbal dan non verbal yang diharapkan dari klien.
3.      Teknik Self Modeling, yakni teknik yang digunakan dengan meminta klien untuk berjanji atau mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu.
4.      Teknik Imitasi, yakni teknik yang digunakan di mana klien diminta untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud melawan perilakunya sendiri yang negatif.
5.      Teknik-teknik Behavioristik:
a.       Teknik Reinforcement, yakni teknik yang digunakan untuk mendorong klien ke arah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun punishment.
b.      Teknik Social Modeling, yakni teknik yang digunakan untuk membentuk perilaku-perilaku baru pada klien. Model-model dalam Social Model, antara lain:
ü  Live Model, digunakan untuk menggambarkan perilaku-perilaku tertentu, khususnya situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapan sosial, interaksi dengan orang tua, orang dewasa, guru atau dengan teman-teman sekelompoknya.
ü  Filmed Model, suatu model perilaku yang di filmkan, sehingga klien dapat mengimitasikan dan mengidentifikasi dirinya dengan model perilaku yang dimunculkan dalam film.
ü  Audio Tape Recorder Model.
6.      Teknik Counter Conditioning : teknik ini untuk menanggulangi perilaku-perilaku seperti anxiety, fearsi, phobia, defensive, dan perilaku maladaptive lainnya. Beberapa jenis teknik Counter Conditioning antara lain:
a.       Systematic Desensitization, dalam teknik ini konselor menciptakan suatu kondisi atau situasi tertentu yang secara potensial merupakan penyebab dari munculnya perasaan negatif klien, namun situasi itu memberikan keadaan rileks kepada klien itu sendiri.
b.      Relaxation, teknik ini digunakan bila kondisi klien sedang dalam tahap pertentangan antara keyakinannya yang irasional dan menimbulkan ketegangan.
c.       Self Control, teknik ini digunakan untuk memodifikasi perilaku klien dengan jalan membangkitkan dan mengembangkan self control-nya.
7.      Teknik-teknik Kognitif : teknik ini digunakan dengan maksud melawan sistem keyakinan yang irasional dari klien serta perilakunya yang negatif. Dengan sisitem ini klien didorong dan dimodifikasi aspek kognitifnya agar dapat berpikir dengan cara yang rasional dan logis. Beberapa teknik kognitif yang cukup dikenal ialah:
a.       Home Work Assignment, dalam teknik ini klien diberikan tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri serta meninternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntun pola perilaku yang diharapkan.
b.      Bibliotherapy, teknik ini digunakan untuk membongkar akar-akar keyakinan yang irasional dan ilogis dalam diri klien serta melatih klien dengan cara-cara berpikir rasional dan logis dengan mempelajari bahan-bahan bacaan yang telah dipilih dan ditentukan oleh konselor.
c.       Diskusi, melalui teknik ini klien dapat mempelajari pengalaman-pengalam orang lain serta dapat menimba berbagai informasi yang dapat mempengaruhi dan mengubah keyakinannya serta dapat berpikir yang irasional dan tidak objektif.
d.      Simulasi, teknik ini digunakan untuk memberi kemungkinan kepada klien mempraktekan perilaku-perilaku tertentu melalui suatu kondisi simulatif yang mendekati kenyataan.
e.       Gaming, teknik ini terutama digunakan untuk melatih dan menempatkan kita dalam peran tertentu.
f.       Paradoxical Intention (keinginan yang berlawanan). Teknik ini didasarkan pada asumsi bahwa seseorang yang mulai memperhatikan keinginan atau hasrat yang tidak baik (negatif) dengan sendirinya akan menjadi jera dengan jalan menciptakan kondisi hiperintention, yakni mempertinggi hasrat atau keinginan, sehingga pada titik kulminasi tertentu orang itu akan menghilangkan sama sekali keinginan itu.
g.      Assertive, teknik digunakan untuk melatih keberanian diri klien dalam mengekspresikan perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan melalui role playing atau social modeling.

Sumber :
Feist, J., & Feist, G. J. (2009). Theories of Personality (7th ed.). New York: McGraw-Hill.
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia
https://cahyaintanp.wordpress.com/2015/04/04/terapi-psikoanalisis-sigmund-freud/

http://nuraenilee.blogspot.co.id/2012/07/2.html

Jumat, 10 Maret 2017

PSIKOTERAPI

19.24 0 Comments



 ilustrasi terapi

 
A.    DEFINISI PSIKOTERAPI
Psikoterapi secara etimologis mempunyai arti sederhana, yakni “psyche” yang di artikan sebagai jiwa dan “theraphy” dari bahasa yunani yang berarti merawat atau mengasuh. Psikoterapi di definisikan sebagai perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologi terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian (Syarifah Fadlina, 2007).
Psikoterapi (dalam Sylvia) adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, di lakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerja sama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidak serasian atau gangguan mental.
Ada beberapa pendapat yang di kemukakan para ahli. Di antaranya (library walisongo, 2005):
a.       Corsini
Psikoterapi adalah proses moral dari interaksi dari dua pihak. Setiap pihak biasanya terdiri dari satu orang. Tetapi ada kemungkinan terdiri dari dua orang atau lebih pada setiap pihak, dengan tujuan untuk keadaan yang tidak menyenangkan pada salah satu bidang.

b.      Lewis R. Worberg M.D.
Dalam bukunya yang berjudul The Technique Psychotherapy, mengatakan psikoterapi adalah perasaan dengan menggunakan alat-alat psikologi terhadap permasalahan yang berasal dari kehidupan emosional dimana seorang ahli secara sengaja menciptakan hubungan profesional dengan pasien yang bertujuan; menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada. Memperantarai (perbaikan) pola tingkah laku yang rusak. Meningkatkan pertumbuhan serta perkembangan kepribadian yang positif.

c.       P. Chaplin
Dalam bukunya yang di terjemahkan oleh Dr. Kartini Kartono mengatakan bahwa psikoterapi adalah penyembuhan lewat keyakinan agama dan diskusi personal dengan para guru ataupun teman.

B.     PERBEDAAN ANTARA KONSELING DENGAN PSIKOTERAPI
Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
Sedangkan psikoterapi menurut Wolberg (dalam Phares dan Trull, 2001), mengungkapkan bahwa psikoterapi merupakan suatu bentuk perlakuan atau tritmen terhadap masalah yang sifatnya emosional. Dengan tujuan menghilangkan simptom untuk mengantarai pola perilaku yang terganggu serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif.
Dari dua definisi di atas kita bisa tarik kesimpulan mengenai dua pembahasan tersebut bahwa konseling lebih terfokus pada interaksi antara konselor dan konseli dan lebih mengutamakan pembicaraan serta komunikasi non-verbal yang tersirat ketika proses konseli berlangsung dan semacam memberikan solusi agar konseli dapat lebih memahami lingkungan serta mampu membuat keputusan yang tepatdan juga nantinya konseli dapat menentukan tujuan berdasarkan nilai yang di yakininya.
Sedangkan psikoterapi lebih terfokus pada treatment terhadap masalah sifatnya, emosional dan juga lebih dapat di andalkan pada klien yang mengalami penyimpangan dan juga lebih berusaha untuk menghilangkan simptom-simptom yang di anggap mengganggu dan lebih mengusahakan agar klien dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian kearah yang positif.
Perbedaan konseling dan psikoterapi di definisikan oleh Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang di kutipoleh Thompson dan Rudolph (1983), sebagai berikut:
KONSELING
PSIKOTERAPI
Klien
Pasien
Gangguan yang kurang serius
Gangguan yang serius
Masalah: Jabatan, Pendidikan, dsb
Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
Berhubungan dengan pencegahan
Berhubungan dengan penyembuhan
Lingkungan pendidikan dan non medis
Lingkungan medis
Berhubungan dengan kesadaran
Berhubungan dengan ketidak sadaran
Metode pendidikan
Metode penyembuhan

C.    METODE-METODE PSIKOTERAPI
       Dalam ilmu psikologi, ada banyak sekali metode yang bisa digunakan untuk terapi. Semua metode itu merupakan hasil pemikiran dan penelitian para pakar psikologi dari berbagai penjuru dunia. Dari sekian banyak metode psikoterapi yang ada, bisa dikategorikan dalam lima pendekatan, yaitu:
1.      Psychoanalysis & Psychodynamic
         Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Psychodynamic (Psikodinamik) pertama kali diciptakan oleh Sigmund Feud (1856-1939), seorang neurologist dari Austria. Teori dan praktek psikodinamik sekarang ini sudah dikembangkan dan dimodifikasi sedemikian rupa oleh para murid dan pengikut Freud guna mendapatkan hasil yang lebih efektif.
         Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan. Untuk itu, klien perlu menggali bawah sadarnya untuk mendapatkan solusi. Dengan memahami masalah yang dialami, maka seseorang bisa mengatasi segala masalahnya melalui “insight” (pemahaman pribadi).
         Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan psikodinamik adalah: Ego State Therapy, Part Therapy, Trance Psychotherapy, Free Association, Dream Analysis, Automatic Writing, Ventilation, Catharsis dan lain sebagainya.

2.      Behavior Therapy
         Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative learning”.
         Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi). Misalnya pada kasus fobia ular, penderita fobia mengasosiasikan ular sebagai sumber kecemasan dan ketakutan karena waktu kecil dia penah melihat orang yang ketakutan terhadap ular. Dalam hal ini, penderita telah belajar bahwa "ketika saya melihat ular maka respon saya adalah perilaku ketakutan".
         Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep Operant Conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
         Berbagai metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan behavior therapy adalah Exposure and Response Prevention (ERP), Systematic Desensitization, Behavior Modification, Flooding, Operant Conditioning, Observational Learning, Contingency Management, Matching Law, Habit Reversal Training (HRT) dan lain sebagainya.

3.      Cognitive Therapy
         Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tokoh besar dalam Cognitive Therapy antara lain Albert Ellis dan Aaron Beck.
         Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional. Beberapa metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan Cognitive adalah Collaborative Empiricism, Guided Discovery, Socratic Questioning, Neurolinguistic Programming, Rational Emotive Therapy (RET), Cognitive Shifting. Cognitive Analytic Therapy (CAT)  dan sebagainya.

4.      Humanistic Therapy
         Pendekatan Humanistic Therapy menganggap bahwa setiap manusia itu unik dan setiap manusia sebenarnya mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap manusia dengan keunikannya bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, dalam terapi humanistik, seorang psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan saja, bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
         Metode psikoterapi yang termasuk dalam pendekatan humanistik adalah Gestalt Therapy, Client Cantered Psychotherapy, Depth Therapy, Sensitivity Training, Family Therapies, Transpersonal Psychotherapy dan Existential Psychotherapy.

5.      Integrative / Holistic Therapy
         Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.

Sumber :
http://www.psikoterapis.com/?en_metode-psikoterapi-yang-dipakai,16